Haris Rusly Moti: Abolisi dan Amnesti Bukan Pengistimewaan, Tapi Jalan Rekonsiliasi Bangsa
Jakarta - Tokoh eksponen gerakan mahasiswa 1998 asal Yogyakarta, Haris Rusly Moti, turut bersuara dalam merespons dinamika nasional terkait wacana pemberian abolisi kepada Thomas Lembong dan amnesti kepada Hasto Kristiyanto.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukanlah bentuk pengistimewaan terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan bagian dari upaya besar dalam misi rekonsiliasi dan perekat bangsa.
Dalam pernyataan sikapnya, Haris menyampaikan sembilan poin refleksi penting jelang peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para pemimpin nasional, untuk menjadikan momen bersejarah tersebut sebagai titik balik penguatan persatuan nasional dan penyembuhan luka politik masa lalu.
Pertama, Haris berharap momen kemerdekaan tahun depan menjadi ajang konsolidasi kerukunan para elite bangsa. Ia mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa kekompakan antar pemimpin adalah kunci utama kemajuan Indonesia.
Kedua, menurut Haris, masyarakat memiliki harapan besar terhadap keteladanan para tokoh nasional. Dalam konteks ini, ia membayangkan betapa indahnya bila Presiden Prabowo dapat bersanding bersama para mantan presiden seperti Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Joko Widodo dalam satu panggung kenegaraan.
“Rakyat merindukan momen kebersamaan itu. Sebab pemimpin yang rukun akan menciptakan suasana kebatinan yang damai di tengah masyarakat,” ungkap Haris pada Selasa (5/8/2025).
Ketiga, Haris menyinggung luka sejarah akibat konflik antar periode politik seperti Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi. Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk “kanibalisme politik” yang telah terlalu lama menyakiti rakyat.
Keempat, ia menyoroti dampak destruktif dari pemilu langsung yang kerap meninggalkan retakan antar tokoh. Polarisasi antara SBY dan Megawati, serta Jokowi dan Megawati, menurutnya menjadi pelajaran penting betapa pentingnya rekonsiliasi sebagai jalan merawat bangsa.
Haris pun mengapresiasi langkah berani Prabowo dan Jokowi yang mampu mengesampingkan rivalitas politik dan justru bersatu demi masa depan Indonesia. “Itu contoh kepemimpinan negarawan, bukan sekadar politisi,” tegasnya.
Kelima, Haris menyebut nama Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, sebagai “engineer politik” yang berada di balik misi besar penyatuan elit nasional. Menurutnya, langkah ini bukan semata-mata kalkulasi kekuasaan, melainkan ikhtiar tulus menyembuhkan luka politik yang selama ini terpendam.
Keenam, ia juga menyinggung langkah konkret yang telah dilakukan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun harmoni nasional, antara lain dengan mengunjungi kediaman Megawati Soekarnoputri di Teuku Umar, Jakarta, dan bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi di Solo. Ini adalah simbol bahwa kepemimpinan Prabowo bergerak menuju penyatuan kekuatan nasional.
Ketujuh, Haris mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia secara kultural masih sangat dipengaruhi oleh pola hubungan patron-klien. Oleh karena itu, harmoni antar elite politik di tingkat pusat akan membawa dampak langsung pada ketenangan sosial di akar rumput.
Kedelapan, ia menegaskan bahwa pemberian abolisi kepada Thomas Lembong dan amnesti kepada Hasto Kristiyanto bukan dimaksudkan untuk membungkam kritik atau memenangkan pihak tertentu dalam arena politik. Sebaliknya, langkah tersebut dimaknai sebagai upaya pemulihan hubungan kebangsaan pasca-Pilpres 2024 yang sempat memicu ketegangan.
Kesembilan, Haris Rusly Moti menutup pernyataannya dengan ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk merawat kerukunan nasional dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, baik di bidang geopolitik maupun ekonomi. Ia juga menghormati sikap Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang memilih mengambil peran sebagai penyeimbang kritis terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Perbedaan pandangan itu sah dan sehat dalam demokrasi. Justru dari dinamika itu akan lahir koreksi yang konstruktif,” ujar Haris.
Melalui sembilan poin refleksinya, Haris Rusly Moti berharap agar seluruh komponen bangsa mampu menatap masa depan dengan semangat rekonsiliasi dan kebersamaan demi Indonesia yang lebih kuat, bersatu, dan berdaulat.